www.sukmariamansyah.wordpress.com

tuntutlah ilmu walau ke negeri china

” siapakah yang bersemayam di buju” juruwan batu putih kecamatan sumenep?”

pada 23 Juni 2010

“ BUJU’ JURUWAN BATU PUTIH “
Oleh : sukmariamansyah, A. Ma.
Sumenep merupakan kabupaten paling timur di pulau Madura dan terkenal sebagai slah satu daerah tujuan wisata di propinsi Jawa Timur. Salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Sumenep bera da di kecamatan Batuputih. Dari sisi geografis, keca matan Bayuputih terletak di dataran tinggi. Dari pu sat kota Sumenep berjarak ±20 km ke arah utara, Dilihat dari kondisi struktur tanah dan bentang alamnya yang berupa pegunungan, pastinya hal yang tampak adalah kekeringan atau kekurangan air serta tanah tadah hujan, Meskipun kenyataan ini menjadi suatu yang tak bisa dihapuskan dari perjalanan masyarakat Batuputih menempuh kehi dupan. Ternyata kalau dipandang dari faktor ekono mi di sekfor lain masih ada ladang garapan yong lebih menjanjikan jika benar-benar dimaksimalkan daripada pertanian yang kurang ‘ menguntungkan, Potensi ekonomi tersebut adalah objek wisata religi yang berada di dusun Jurak Lao’ Desa Juruan Daya Kecamatan Batuputih, tepatnya 5 km ke arah timur kantor kecamatan Batuputih. Letaknya yang tinggi membuat para pengunjung betah bertamasya rohani walaupun seharian karena selalu dihibur oleh sepoi ongin dari pohon-pohon besar di sekitar areal buju’ Jaruwon serta pedagang makanan kecil yang setiap saat setia menunggui para pengunjung. di lo kasi asta. Setiap pengunjung yang datang dijadikan kesempatan untuk meraup riski dengan menjajakan beberapa macam jajanan ataupun mainan. Bahkan ada beberapa orang yang sengaja menetap untuk sekadar berjualan di buju’ Jaruwon,
Buju’ Jaruwan adalah sebuah nama asta pasa rean Raden Fotah yang hidup dan menyebarkan agama Islam di Sumenep kira-kira pada abad ke-15. Nama aslinya adalah Pangeran Siding Margo.’ Masyarakat setempat menyebutnya buju’ Jaruwan karena lokasi as+anya berada di daerah Juruan, Pangeran Siding Margo ini masih cucu dari Sunan Kudus dari putranya Pangeran Pakaos. Pangeran Pakaos mempunyai dua putra, Perrama adalah Syeh Ahmad Baidlawi (Pangeran Katandur) dan yang ke dua Pangeran Siding Margo (buju’ Jaruwan), Jadi Raden Fatah ini masih odik dari pangeran Katandur. Akan tetapi tahun lahir atau wafatnya tidak jelas karena tidak ada bukti kongkrit. Di nisannya pun ti dak tertera nama dan tahun fawatnya, hanya sa ja menurut salah satu penjaga asta, H. Muhammad Ahya’ (60 tahun), Raden Fatah wafat tahun 1470-an.
Dari penuturan warga setempat, lokasi asta dulunya hutan belantara. Asta tersebut ditemukan karena di daerah itu sering terjadi peristiwa mistik, Salah satunya ada penunggang kuda yang memba wa beras ternyata berubah menjadi garam, Sebab ketika itu ditanyakan oleh beberapa warga. Pe nunggang kuda itu bilang kalau yang dibawa adalah garam, Dari itulah muncul keinginan masyarakat setempat untuk.mengetahui penyebab yang timbul oleh adanya beberapa keanehan yang sering kali terjadi di daerah tersebut, Langkah yang dilakukan nya adalah melakukan ritual suci berupa tahlilan serta musik khas Madura saronen yang ditampil kan semalam suntuk. Warga datang berbondong-bondong ke lokasi ritual itu (salameddan ; Madura) dengan membawa berbagai macam sesaji berupa hasil panen, buah-buahan dan makanan pokok ser ta binatang ternakpun tak luput dibawa ke lokasi. Dari adanya selamatan itu datanglah ilham kepada salah satu pemuka agama bahwa di daerah itu , terdapat jasad seorang waliyullah yang meninggal saat bertapa dan minta dikuburkan di daerah terse but. Setelah pembangunan asta rampung, masih saja ada peristiwa mistik yang terjadi dituturkon oleh penjago asta bahwa setiap malam Jum’at legi (manis; Madura) di dalam asta terdengar ramai se kali seperti ada orang yang menabuh tiang-tiang penyanggah, Di dalam asta menurutnya, pada saat sedang ramai bujuk Jaruwan sedang berperang dengan buju’ Totale yang terletak di desa Lapa Daya Kecamatan Dungkek. Yang lebih aneh lagi, pohon jati yang dulu berada persis di depan buju’ Jaruwan ketika mau ditebang (1994) mengeluarkan darah serta di dalam pohon itu terdapat beberapa benda pusaka seperti keris dan tombak.
Raden Fatah (Pangeran Siding Margo) sendiri bukan asli Batuputih, melainkan seorang musofir asal Jawa Tengah. Dalam pengembaraan sucinya beliau meninggal tepatnya di goa pertapaan. Goa tersebut dinamakan goa pertapa (patapon ; Madu ra) karena raden Fatah meninggal saat sedang bertapa di goa itu. Lokasi goanya berada di atas pegunungon 150 m ke arah timur bujuk Jaruwan, Sebenarnya goa itu terlihat sempit akan tetapi dari beberapa orang yang pernah bertapa, kalau diteri ma akan menjodi lebar dan bisa tembus ke daerah lain seperti ke goa Badur (Batuputih), Pancor (Ba tang-Batang), goa Pajuddan (Guluk-Guluk) dan gunung Agung (Bali).
Di kaki pegunungan itu terdapat sumur tua namanya sumur Bulengan. Menurut cerita, sumur itu memancarkan air hanya dengan ditancapkan tombak di atasnya. Dulu, sumur tersebut menjadi tempat pemandian Raden Fatah sampai sekarang sumur itu masih terawat dengan baik bahkan dari desa-desa sebelah
mengangkut air dari sumur Bulengan. Sekitar 350 m ke aroh selatan dari sumur Bulengan ada se buah sumber air yang juga tempat permandian Raden Fatah ketika habis menggarap sawah. Ma syarakat setempat menyebutnya sumber Kappu wan. Karena dulu sumber air itu disumbat dengan Gong (Tappuwan ; Madura). Untuk menyumbat pusat semburon sumber air yang mengalir terlalu besar. Dikhawatirkan mengakibatkan banjir di daerah tersebut. Sekarang sumber Kappuwan masih terpelihara keasliannya, Lokasinya berada di desa Juruan Look tepat di belakng Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Al-Wathan.
Itulah sekilas silsilah Raden Fatah (pangeron Siding Margo) beserta peninggalannya. Semoga kita semua sebagai generasi penerus diberi kesada ran untuk melestarikan khasanah kebuda yaan Indonesia, khususnya di Madura (Sumenep). Dan sebagai warga negara yang berbudaya, kita ditun tut , untuk menghargai sejarah, Kita ada kare na sejarah dan sejarah tetap lestari karena kita menun jung tinggi nilai-nilai sejarah. Bung Karno pernah berucap “Jangan sampai melupakan sejarah” (JASMERAH).
Semoga pitutur ini dapat dipetik hikmahnya. Diangkatnya buju’ Jaruwon sebagai salah satu objek wisata religi di Kecamatan Batuputih, diharapkan dapat mengangkat martabat Sumenep untuk menarik minat wisatawan baik asing atupun domestik. Amin ….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: